Rabu, 23 Maret 2011

sektor pertanian


 I.Pendahuluan

Penekanan pembangunan pada sektor modern perkotaan telah terbukti
meningkatkan pertumbuhan di sektor dan lokasi yang hanya memiliki tingkat
produktifitas tinggi. Laju pertumbuhan investasi dan akumulasi modal hanya
terpusat di sektor modern tersebut. Konsep tersebut menginspirasikan
terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan di perkotaan (Growth pole economy)
Diharapkan dengan terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan tersebut akan terjadi
proses penetesan pembangunan ke daerah-daerah belakang (trickle down process)
 dan pemerataan akan terjadi secara "otomatis" dari kutub-kutub
pertumbuhan ke daerah belakang tersebut (hinterland). Namun pada
kenyataannya penetesan pembangunan itu tidak terjadi, dan yang terjadi adalah
pengurasan sumberdaya yang dimiliki daerah oleh pusat secara besar-besaran
(massive backwash effect). Paradigma pembangunan yang urban biased tersebut
telah menimbulkan berbagai persoalan seperti terjadinya urbanisasi yang
berlebihan (over urbanization) karena akumulasi kapital yang berada di perkotaan.
Urbanisasi yang berlebihan tersebut pada akhimya menimbulkan berbagai
persoalan di kota dan yang terjadi bukan lagi economies of scale (economies of
agglomeration) namun justru diseconomies of scale. Kota-kota besar tumbuh
dengan cepat sebagai pusat pertumbuhan wilayah yang sering mengabaikan
fungsinya untuk memberikan
pelayanan kepada daerah hinterland
Di lain pihak, daerah-daerah belakang menjadi kekurangan sumberdaya
akibat pengurasan yang dilakukan oleh kota, baik itu sumberdaya alam,
sumberdaya manusia dan sumberdaya modal yang merupakan penentu
kemajuan dan pembangunan. Akibatnya kesenjangan spasial antara perkotaan
dan perdesaan terjadi dan terakumulasi dari waktu ke waktu. Selain itu
kegagalan pemerintah di masa lalu disebabkan karena begitu kuatnya dominasi
pemerintah pusat yang mengarah kepada terjadinya kerusakan moral (moral
hazard). Kebijakan yang ditempuh bersifat top down dan seringkali tidak sesuai
dengan kebutuhan daerah (lokal). Kebijakan yang sentralistik dan adanya
perilaku moral hazard tersebut telah menyebabkan alokasi sumberdaya yang
tidak efisien,dan seringkali merusak tatanilai yang dianut oleh masyarakat,
sehingga kemampuan dan daya kreasi masyarakat menjadi lumpuh, masyarakat
menjadi tidak memiliki inovasi dalam mengembangkan diri dan daerahnya.
Pemerintahan yang sentralistik dengan kekuasaan dan kewenangan yang sangat
luas telah memberikan kesempatan kepada oknum pemerintah yang
tidak bertanggung jawab dengan berperilaku yang mendahulukan kepentingan
dirinya sendiri dari pada kepentingan masyarakat luas. Mereka berusaha selalu
mengejar keuntungan yang sebesar-besarnya (rent seeking), sehingga
menyebabkan terjadinya kegagalan pasar (market failure) dan juga dapat
menyebabkan terjadinya kegagalan pemerintah (government failure). Perilaku
tersebut telah menghambat terjadinya perubahan dinamik guna melakukan
penyesuaian penyesuaian ekonomi (economic adjustment) yang diperlukan dan
pada akhirnya perilaku para pencari rente (rent seekers) akan merugikan
kepentingan masyarakat keseluruhan. Berdasarkan pengalaman berbagai
kegagalan tersebut, maka diperlukan perubahan paradigma pembangunan
wilayah yang lebih membatasi kekuasaan pemerintah hanya kepada bidangbidang
yang disebut "public good" .

II.Pembahasan
2.1 Pertanian
Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumbar daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa difahami orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam  serta pembesaran  (raising), meskipun cakupannya dapat pula berupa pemanfaatan hwan  dan pertanian  dalam pengolahan produk lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe atau sekedar ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi hewan
Bagian terbesar penduduk dunia bermata pencaharian dalam bidang-bidang di lingkup pertanian, namun pertanian hanya menyumbang 4% di dunia. Sejarah  sejak masa kolonial sampai sekarang tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian dan perkebunan, karena sektor - sektor ini memiliki arti yang sangat penting dalam menentukan pembentukan berbagai realitas ekonomi dan sosial masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan data  tahun 2002, bidang pertanian di Indonesia menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 44,3% penduduk meskipun hanya menyumbang sekitar 17,3% dari total pendapatan domestik bruto.
Kelompok ilmu-ilmu pertanian mengkaji pertanian dengan dukungan ilmu-ilmu pendukungnya.  Usaha tani (farming) adalah bagian inti dari pertanian karena menyangkut sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam budidaya. Petani adalah sebutan bagi mereka yang menyelenggarakan usaha tani, sebagai contoh "petani tembakau" atau "petani ikan". Pelaku budidaya hewan ternak (livestock) secara khusus disebut sebagai peternak.

2.2Sektor Pertanian dan Struktur Perekonomian Indonesia

Struktur perekonomian Indonesia merupakan topik strategis yang sampai sekarang masih menjadi topik sentral dalam berbagai diskusi di ruang publik. Kita sudah sering mendiskusikan topik ini jauh sebelum era reformasi tahun 1998. Gagasan mengenai langkah-langkah perekonomian Indonesia menuju era industrialisasi, dengan mempertimbangkan usaha mempersempit jurang ketimpangan sosial dan pemberdayaan daerah, sehingga terjadi pemerataan kesejahteraan kiranya perlu kita evaluasi kembali sesuai dengan konteks kekinian dan tantangan perekonomian Indonesia di era globalisasi.
Tantangan perekonomian di era globalisasi ini masih sama dengan era sebelumnya, yaitu bagaimana subjek dari perekonomian Indonesia, yaitu penduduk Indonesia sejahtera. Indonesia mempunyai jumlah penduduk yang sangat besar, sekarang ada 235 juta penduduk yang tersebar dari Merauke sampai Sabang. Jumlah penduduk yang besar ini menjadi pertimbangan utama pemerintah pusat dan daerah, sehingga arah perekonomian Indonesia masa itu dibangun untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya.
Berdasarkan pertimbangan ini, maka sektor pertanian menjadi sektor penting dalam struktur perekonomian Indonesia. Seiring dengan berkembangnya perekonomian bangsa, maka kita mulai mencanangkan masa depan Indonesia menuju era industrialisasi, dengan pertimbangan sektor pertanian kita juga semakin kuat.
Seiring dengan transisi (transformasi) struktural ini sekarang kita menghadapi berbagai permasalahan. Di sektor pertanian kita mengalami permasalahan dalam meningkatkan jumlah produksi pangan, terutama di wilayah tradisional pertanian di Jawa dan luar Jawa. Hal ini karena semakin terbatasnya lahan yang dapat dipakai u
ntuk bertani. Perkembangan penduduk yang semakin besar membuat kebutuhan lahan untuk tempat tinggal dan berbagai sarana pendukung kehidupan masyarakat juga bertambah. Perkembangan industri juga membuat pertanian beririgasi teknis semakin berkurang.
Selain berkurangya lahan beririgasi teknis, tingkat produktivitas pertanian per hektare juga relatif stagnan. Salah satu penyebab dari produktivitas ini adalah karena pasokan air yang mengairi lahan pertanian juga berkurang. Banyak waduk dan embung serta saluran irigasi yang ada perlu diperbaiki. Hutan-hutan tropis yang kita miliki juga semakin berkurang, ditambah lagi dengan siklus cuaca El Nino-La Nina karena pengaruh pemanasan global semakin mengurangi pasokan air yang dialirkan dari pegunungan ke lahan pertanian.
Sesuai dengan permasalahan aktual yang kita hadapi masa kini, kita akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan di dalam negeri. Di kemudian hari kita mungkin saja akan semakin bergantung dengan impor pangan dari luar negeri. Impor memang dapat menjadi alternatif solusi untuk memenuhi kebutuhan pangan kita, terutama karena semakin murahnya produk pertanian, seperti beras yang diproduksi oleh Vietnam dan Thailand. Namun, kita juga perlu mencermati bagaimana arah ke depan struktur perekonomian Indonesia, dan bagaimana struktur tenaga kerja yang akan terbentuk berdasarkan arah masa depan struktur perekonomian Indonesia.
Struktur tenaga kerja kita sekarang masih didominasi oleh sektor pertanian sekitar 42,76 persen (BPS 2009), selanjutnya sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar 20.05 persen, dan industri pengolahan 12,29 persen. Pertumbuhan tenaga kerja dari 1998 sampai 2008 untuk sektor pertanian 0.29 persen, perdagangan, hotel dan restoran sebesar 1,36 persen, dan industri pengolahan 1,6 persen.
Sedangkan pertumbuhan besar untuk tenaga kerja ada di sektor keuangan, asuransi, perumahan dan jasa sebesar 3,62 persen, sektor kemasyarakatan, sosial dan jasa pribadi 2,88 persen dan konstruksi 2,74 persen. Berdasarkan data ini, sektor pertanian memang hanya memiliki pertumbuhan yang kecil, namun jumlah orang yang bekerja di sektor itu masih jauh lebih banyak dibandingkan dengan sektor keuangan, asuransi, perumahan dan jasa yang pertumbuhannya paling tinggi. Data ini juga menunjukkan peran penting dari sektor pertanian sebagai sektor tempat mayoritas tenaga kerja Indonesia memperoleh penghasilan untuk hidup. Sesuai dengan permasalahan di sektor pertanian yang sudah disampaikan di atas, maka kita mempunyai dua strategi yang dapat dilaksanakan untuk pembukaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia di masa depan. 
Strategi pertama adalah melakukan revitalisasi berbagai sarana pendukung sektor pertanian, dan pembukaan lahan baru sebagai tempat yang dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Indonesia. Keberpihakan bagi sektor pertanian, seperti ketersediaan pupuk dan sumber daya yang memberikan konsultasi bagi petani dalam meningkatkan produktivitasnya, perlu dioptimalkan kinerjanya. Keberpihakan ini adalah insentif bagi petani untuk tetap mempertahankan usahanya dalam pertanian. Karena tanpa keberpihakan ini akan semakin banyak tenaga kerja dan lahan yang akan beralih ke sektor-sektor lain yang insentifnya lebih menarik.
Strategi kedua adalah dengan mempersiapkan sarana dan prasarana pendukung bagi sektor lain yang akan menyerap pertumbuhan tenaga kerja Indonesia. Sektor ini juga merupakan sektor yang jumlah tenaga kerjanya banyak, yaitu sektor perdagangan, hotel, dan restoran serta industri pengolahan. Sarana pendukung seperti jalan, pelabuhan, listrik adalah sarana utama yang dapat mengakselerasi pertumbuhan di sektor ini.
Struktur perekonomian Indonesia sekarang adalah refleksi dari arah perekonomian yang dilakukan di masa lalu. Era orde baru dan era reformasi juga telah menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor penting yang membuka banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia. Sektor pertanian juga menyediakan pangan bagi masyarakat Indonesia. Saat ini kita mempunyai kesempatan untuk mempersiapkan kebijakan yang dapat membentuk struktur perekonomian Indonesia di masa depan. Namun, beberapa permasalahan yang dihadapi sektor pertanian di masa ini perlu segera dibenahi, sehingga kita dapat meneruskan hasil dari kebijakan perekonomian Indonesia yang sudah dibangun puluhan tahun lalu, dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia sampai saat sekarang ini.


2.4Dampak-dampak terhadap sektor pertanian
Dampak Investasi Sektor Transportasi Terhadap Sektor-Sektor Perekonomian
Sebenarnya yang diharapkan dari investasi suatu sektor adalah adanya
dampak yang dihasilkan oleh sektor tersebut terhadap perekonomian. Dampak
yang ditimbulkan oleh investasi suatu sektor terhadap sektor lainnya lebih
difokukan pada dampak output dari suatu sektor terhadap sektor-sektor
perekonomian lainnya. Hasil perhitungan data Input-Output Tahun 2000 dengan
menggunakan klasifikasi 66 sektor yang diagregasi menjadi 14 sektor yang
disesuaikan dengan kebutuhan penelitian. Hasil perhitungan ini lebih
difokuskan pada subsektor-subsektor yang terdapat di Sektor Transportasi.
Berdasarkan data Input-Output Tahun 2000 dengan menggunakan klasifikasi 66
sektor, maka terdapat lima subsektor yang dikategorikan sebagai Subsektor
Transportasi adalah Subsektor Kereta Api, subsektor Angkutan Darat, Subsektor
Angkutan Laut, Subsektor Angkutan Udara, dan Subsektor Jasa Penunjang
Angkutan (misalnya Pelabuhan Laut, Pelabuhan Udara, dan sebagainya).
Berdasarkan hasil analisis data Input-Output Tahun 2000 yang dilakukan
terhadap ke lima Subsektor Transportasi untuk melihat dampak terhadap sektor sektor perekonomian lainnya.

2.5Dampak Tsunami Terhadap Sektor Pertanian


Terdapat 9 kabupaten/kota yang terkena tsunami di NAD. Daerah yang mengalami kerusakan lahan pertanian cukup berat terjadi di Kab. Aceh Besar, Aceh Barat Daya, Pidie, Bireun, dan Aceh Jaya. Ribuan hektar tercemar lumpur yang terbawa gelombang tsunami. Kondisi di lapangan pasca tsunami terlihat pada kondisi rumput yang mati total. Masyarakat khawatir sawah mereka tidak dapat ditanami untuk waktu yang lama karena kadar garam yang terlalu tinggi. Selain areal sawah, ratusan ribu sumur penduduk pun ikut tercemar. Kondisi ini menyebabkan pembangunan sektor pertanian terhenti dan memerlukan penanganan serius untuk perbaikan.Gempa bumi, masuknya air laut (salinitas) dan tebalnya endapan lumpur (sedimen) membuat kerusakan lahan pertanian yang serius. Secara umum kerusakan di pantai barat lebih berat dibanding pantai timur. Di pantai barat, tinggi timbunan lumpur yang menutup lahan umumnya di atas 20 cm, dibanding di pantai timur yang umumnya ri bawah 20 cm. Lumpur tebal (>10 cm) umumnya dijumpai pada jarak 3-4 km dari pantai, makin dekat ke pantai ketebalan lumpur makin tipis. Hasil analisa laboratorium yang dilakukan oleh Tim Puslitbangtanak, Badan Litbang Pertanian, terhadap contoh lumpur dan tanah yang diambil di beberapa lokasi menunjukkan tingginya daya hantar listrik (DHL), >10 dS/m untuk lumpur dan 2  12 dS/m untuk tanah permukaan. Umumnya tanaman semusim seperti jagung, kacang tanah, dan padi mulai terganggu pertumbuhannya pada DHL 4 dS/m. Kandungan garam pada contoh lumpur dan tanah juga cukup tinggi yaitu 2.000-26.900 ppm untuk lumpur dan 140  6.000 ppm untuk tanah.Tingkat kerusakan lahan yang terjadi a.l. lahan sawah (termasuk subsektor hortikultura) seluas 20.101 ha, ladang tegalan (tanaman palawija dan horti) 31.345 ha, dan perkebunan diperkirakan 56.500 - 102.461 ha (data FAO  Deptan) yang terdiri atas lahan perkebunan karet, kelapa, kelapa sawit, kopi, cengkeh, pala, pinang, coklat, nilam, dan jahe. Adapun jumlah ternak yang mati ataupun hilang adalah 78.450 ekor sapi, 62.561 ekor kerbau, domba 16.133 ekor, kambing 73.100 ekor, dan unggas 1.624.431 ekor.Infrastruktur usahatani, seperti jaringan irigasi, bangunan irigasi, jaringan saluran tingkat usahatani, jalan usahatani, pematang, terasering (lahan kering) serta bangunan petakan lahan usahatani pun tak luput dari kerusakan. Disamping itu juga berbagai peralatan, seperti hand tractor, pompa air, traktor besar, alat pengolah nilam, karet, minyak kelapa, dan pengolah dendeng ikut rusak.FAO memperkirakan kehilangan produksi bidang pertanian mencapai US$ 78,8 juta, dan prakiraan kerusakan infrastruktur pertanian sebesar US$ 33,4 juta. Upaya rehabilitasi di wilayah pantai barat diperkirakan membutuhkan waktu sekitar lima tahun. Sedangkan pantai timur yang kerusakannya relatif lebih ringan dapat direhabilitasi dalam kurun waktu satu hingga dua tahun.

III. Peranan Sektor Pertanian
Sumbangan sektor pertanian terhadap perekonomian Kabupaten Deli Serdang masih sangat dominan terutama tanaman bahan makanan dan perkebunan. Namun demikian, konstribusi sektor pertanian terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kabupaten Deli Serdang dari tahun ke tahun cenderung mengalami penurunan. Jika tahun 2004 sektor ini menyumbang sebesar 15,29 % berturut-turut turun menjadi 13,34 % pada tahun 2005, menjadi 12,19 pada tahun 2006 dan kembali menurun pada tahun 2007 menjadi 11,17 % serta tahun 2008 menjadi 10,82%.

Pada periode 2004 – 2008 untuk Tanaman Bahan Makanan yang didominasi oleh komoditi padi dan palawija cenderung mengalami peningkatan yaitu dari 5,22 % pada tahun 2004 menjadi 5,24 % pada tahun 2005 dan naik menjadi 5,60 % tahun 2006. Namun pada tahun 2007 kontribusi subsektor ini mengalami penurunan menjadi sebesar 5,11 % dan kembali naik pada tahun 2008 menjadi 5,26%, hal tersebut dimungkinkan oleh semakin berkurangnya luas lahan sawah sebagai akibat alih fungsi lahan antara lain dari tanah lahan persawahan/ladang menjadi pemukiman.Sektor pertanian sampai saat ini masih merupakan basis ekonomi rakyat di pedesaan, menguasai hajat hidup sebagian besar penduduk, menyerap lebih dari sepertiga jumlah tenaga kerja di Kabupaten Deli serdang. Pada tahun 2008, dari total 645.977 pekerja umur 10 tahun keatas di Kabupaten ini adalah sebanyak 219.061 jiwa atau 33,91% nya bekerja di sektor pertanian.
3.1PERKEMBANGAN SEKTOR PERTANIAN
1. Peranan Sektor Pertanian
Menurut Kuznets, Sektor pertanian di LDC’s mengkontribusikan thd pertumbuhan dan pembangunan ekonomi nasional dalam 4 bentuk:
a.Kontribusi Produkè Penyediaan makanan utk pddk, penyediaan BB untuk industri manufaktur
   spt industri: tekstil, barang dari kulit, makanan & minuman
b.Kontribusi Pasarè Pembentukan pasar domestik utk barang industri & konsumsi
c.Kontribusi Faktor ProduksièPenurunan peranan pertanian di pembangunan ekonomi, maka
   terjadi transfer surplus modal & TK dari sector pertanian ke Sektor lain
d.Kontribusi Devisaè Pertanian sbg sumber penting bagi surplus neraca perdagangan (NPI) melalui ekpspor produk pertanian dan produk pertanian yang menggantikan produk impor.

Kontribusi Produk.
Dalam system ekonomi terbuka, besar kontribusi produk sector pertanian bisa lewat pasar dan lewat produksi dg sector non pertanian.
§ Dari sisi pasar, Indonesia menunjukkan pasar domestic didominasi oleh produk pertanian dari LN seperti buah, beras & sayuran hingga daging.
§ Dari sisi keterkaitan produksi, Industri kelapa sawit & rotan mengalami kesulitan bahan baku di dalam negeri, karena BB dijual ke LN dengan harga yg lebih mahal.

Kontribusi Pasar.
Negara agraris merup sumber bagi pertumbuhan pasar domestic untuk produk non pertanian spt
pengeluaran petani untuk produk industri (pupuk, pestisida, dll) & produk konsumsi (pakaian,
mebel, dll)
Keberhasilan kontribusi pasar dari sector pertanian ke sector non pertanian tergantung:
§ Pengaruh keterbukaan ekonomiè Membuat pasar sector non pertanian tidak hanya disi dengan produk domestic, tapi juga impor sbg pesaing, shg konsumsi yg tinggi dari petani tdk menjamin pertumbuhan yg tinggi sector non pertanian.
§ Jenis teknologi sector pertanianè Semakin moderen, maka semakin tinggi demand produk industri non pertanian

Kontribusi Faktor Produksi.
F.P yang dapat dialihkan dari sector pertanian ke sektor lain tanpa mengurangi volume produksi pertanianè Tenaga kerja dan Modal

Di Indonesia hubungan investasi pertanian & non pertanian harus ditingkatkan agar
ketergantungan Indonesia pada pinjaman LN menurun. Kondisi yang harus dipenuhi untuk
merealisasi hal tsb:
§ Harus ada surplus produk pertanian agar dapat dijual ke luar sectornya. Market surplus ini harus tetap dijaga & hal ini juga tergantung kepada factor penawaran è Teknologi, infrastruktur & SDM dan factor permintaan è nilai tukar produk pertanian & non pertanian baik di pasar  domestic & LN
§ Petani harus net saversè Pengeluaran konsumsi oleh petani < produksi
§ Tabungan petani > investasi sektor pertanian

Kontribusi Devisa.
Kontribusinya melalui :
§ Secara langsungè ekspor produk pertanian & mengurangi impor.
§ Secara tidak langsungè peningkatan ekspor & pengurangan impor produk
  berbasis pertanian spt tekstil, makanan & minuman, dll

Kontradiksi kontribusi produk & kontribusi deviasè peningkatan ekspor produk pertanian
menyebabkan suplai dalam negari kurang dan disuplai dari produk impor. Peningkatan ekspor
produk pertanian berakibat negative thd pasokan pasar dalam negeri. Untuk menghindari trade
off ini 2 hal yg harus dilakukan:
§ Peningkatan kapasitas produksi.
§ Peningkatan daya saing produk produk pertanian

2. Sektor Pertanian di Indonesia
§  Selama periode 1995-1997è PDB sektor pertanian (peternakan, kehutanan & perikanan) menurun & sektor lain spt menufaktur meningkat.
§ Sebelum krisis moneter, laju pertumbuhan output sektor pertanian < ouput sektor non pertanian
§ 1999 semua sektor turun kecuali listrik, air dan gas.

Rendahnya pertumbuhan output pertanian disebabkan:
§ Iklimè kemarau jangka panjang berakibat volume dan daya saing turun
§ Lahanè lahan garapan petani semakin kecil
§ Kualitas SDMè rendah
§ Penggunaan Teknologièrendah

Sistem perdagangan dunia pasca putaran Uruguay (WTO/GATT) ditandatangani oleh 125 negara anggota GATT telah menimbulkan sikap optimisme & pesimisme Negara LDC’s:
§ Optimisè Persetujuan perdagangan multilateral WTO menjanjikan berlangsungnya perdagangan bebas didunia terbebas dari hambatan tariff & non tariff
§ Pesimisè Semua negara mempunyai kekuatan ekonomi yg berbeda. DC’s mempunyai kekuatan > LDC’s

Perjanjain tsb merugikan bagi LDC’s, karena produksi dan perdagangan komoditi pertanian, industri & jasa di LDC’s masih menjadi masalah besar & belum efisien sbg akibat dari rendahnya teknologi & SDM, shg produk dri DC’s akan membanjiri LDC’s.

Butir penting dalam perjanjian untuk pertanian:
§ Negara dg pasar pertanian tertutup harus mengimpor minimal 3 % dari kebutuhan konsumsi domestik dan naik secara bertahap menjadi 5% dlm jk waktu 6 tahun berikutnya
§ Trade Distorting Support untuk petani harus dikurangi  sebanyak 20% untuk DC’s dan 13,3 % untuk LDC’s selama 6 tahun
§ Nilai subsidi ekspor langsung produk pertanian harus diturunkan sebesar 36% selama 6 tahun & volumenya dikurangi 12%.
§ Reformasi bidang pertanian dlm perjanjian ini tdk berlaku utk negara miskin

Temuan hasil studi dampak perjanjian GATT:
§ Skertariat GATT (Sazanami, 1995)è Perjanjian tsb berdampak + yakni peningkatan pendapatan per tahun è Eropa Barat US $ 164 Milyar, USA US$ 122 Milyar, LDC’s & Eropa Timur US $ 116 Milyar. Pengurangan subsidi ekspor sebesar 36 % dan penurunan subsidi sector pertanian akan meningkatkan pendapatan sector pertanian Negara Eropa US $ 15 milyar & LDC’s US $ 14 Milyar
§ Goldin, dkk (1993)è Sampai th 2002, sesudah terjadi penurunan tariff & subsidi 30% manfaat ekonomi rata-rata pertahun oleh anggota GATT sebesar US $ 230 Milyar (US $ 141,8 Milyar / 67%0 dinikmati oleh DC’s dan Indonesia rugi US $ 1,9 Milyar pertahaun
§ Satriawan (1997)è Sektor pertanian Indonesia rugi besar dlm bentuk penurunan produksi komoditi pertanian sebesar 332,83% dengan penurunan beras sebesar 29,70% dibandingkan dg Negara ASIAN
§ Feridhanusetyawan, dkk (2000)è Global Trade Analysis Project mengenai 3 skenario perdagangan bebas yakni Putaran Uruguay, AFTA & APEC. Ide dasarnya: apa yang terjadi jika 3 skenario dipenuhi (kesepakatan ditaati) dan apa yang terjadi jika produk pertanian diikutsertakan? Perubahan yang diterapkan dalam model sesuai kesepakatan putaran Uruguay adalah:
    a. Pengurangan pajak domestic & subsidi sector pertanian sebesar 20% di
       DC’s dan 13 % di LDC’s
    b. Penurunan pajak/subsidi ekspor sector pertanian 36% di DC’s & 24% di
       LDC’s
    c. Pengurangan border tariff untuk komoditi pertanian & non pertanian

Liberalisasi perdagangan berdampak negative bagi Indonesia thd produksi padi & non gandum. Untuk AFTA & APEC, liberalisasi  perdagangan pertanian menguntungkan Indonesia dg meningkatnya produksi jenis gandum lainnya (terigu, jagung & kedelai). AFTAèIndonesia menjadi produsen utama pertanian di ASEANdan output pertanian naik lebih dari 31%. Ekspor pertanian naik 40%.

3. Nilai Tukar Petani (NTP)
Nilai tukarè nilai tukar suatu barang dengan barang lainnya. Jika harga produk A Rp 10 dan produk B Rp 20, maka nilai tukar produk A thd B=(PA/PB)x100% =1/2. Hal ini berarti 1 produk A ditukar dengan ½ produk B. Dengan menukar ½ unit B dapat 1 unit A. Biaya opportunitasnya adalah mengrobankan 1 unit A utk membuat ½ unit B.

Dasar Tukar (DT):
§ DT dalam negeriè pertukaran 2 barang yang berbeda di dalam negeri dg mata uang nasional
§ DT internasional / Terms Of Tradeè pertukaran 2 barang yang berbeda di dalam negeri dg mata uang internasional

Nilai Tukar Petaniè Selisih harga output pertanian dg harga inputnya (rasio indeks harga yang diterima petani dg indeks harga yang dibayar).
Semakin tinggi NTPè semakin baik.

NTP setiap wilayah berbeda dan ini tergantung:
§ Inflasi setiap wilayah
§ Sistem distribusi input pertanian
§ Perbedaan ekuilibrium pasar komoditi pertanian setiap wilayah (D=S)
    D>Sè harga naik & D<Sè harga turun
IV.Kesimpulan
Pengaruh sektor pertanian lebih kecil bila di bandingkan sektor industri. Hal ini menyebabkan sektor partanian tidak mampu menimbulkan efek pertumbuhanyang kuat apabila tidak di sertai dengan peningkatan sektor industri mempunyai nilai lebih dari 1 yang berarti pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan masih dapat di andalkan dari sektor pertanian dan sektor industri .
V.Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar